Cerita Kampung Salak Condet yang Kini Tinggal Kenangan
Pagi di Condet dulu selalu dimulai dengan aroma tanah basah dan rimbunnya daun salak yang bergesekan pelan ditiup angin. Anak-anak berlarian di pematang kebun, kaki mereka kotor oleh tanah, tangan sibuk memetik buah salak yang matang sempurna. Di sinilah Kampung Salak Condet pernah hidup—bukan sekadar sebagai tempat tinggal, tapi sebagai ruang tumbuh bagi tradisi, alam, dan kebersamaan.
Pada masa lampau, hampir setiap rumah di Condet dikelilingi kebun salak. Bahkan rumah yang kini ditinggali anak-cucu Almarhum Haji Endung (Abdul Chair) pun dahulu berada di tengah rimbunnya pepohonan salak. Halaman yang sekarang dipenuhi bangunan dan tembok, dulunya adalah tanah terbuka tempat pohon-pohon salak tumbuh rapat, berbuah lebat, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga.
Konon, salak-salak itulah yang sering dipetik sendiri oleh Haji Endung dan warga sekitar. Sebagiannya dikonsumsi, sebagian lagi dibagikan, dan sisanya dijual untuk kebutuhan kampung. Pemandangan anak-anak bermain di antara pohon salak, serta suara orang dewasa berbincang sambil membersihkan hasil panen, menjadi keseharian yang kini hanya tersisa dalam ingatan.
Kisah tentang kejayaan Kampung Salak Condet ini kerap disampaikan oleh Almarhum Haji Endung, seorang guru mengaji yang dikenal luas oleh warga Condet pada era 1980-an. Di sela-sela pengajian sore, beliau sering bercerita bahwa tanah-tanah yang kini berdiri rumah permanen dulunya adalah kebun salak yang luas. Dengan bahasa sederhana dan penuh makna, beliau mengingatkan bahwa kampung ini dibesarkan oleh alam dan dijaga oleh kebersamaan warganya.
Para orang tua mengenang bagaimana hasil panen salak menjadi penopang hidup. Dari kebun itulah anak-anak bisa sekolah, dapur tetap mengepul, dan hubungan antarwarga terjalin erat. Saat musim panen tiba, kampung terasa hidup. Tawa, obrolan, dan gotong royong mengisi hari-hari. Tidak ada pagar tinggi, karena rasa saling percaya sudah lebih dulu tumbuh.
Namun waktu berjalan, dan Jakarta berkembang pesat. Perlahan, kebun-kebun salak ditebang, tanah-tanah dijual, dan rumah-rumah mulai berdiri. Lahan yang dahulu hijau berubah menjadi pemukiman padat. Rumah yang kini dihuni anak-cucu Haji Endung menjadi salah satu saksi perubahan itu—dari kebun salak yang rimbun menjadi bangunan tempat generasi baru melanjutkan kehidupan.
Kini, kejayaan Kampung Salak Condet tinggal cerita. Beberapa pohon salak yang tersisa berdiri sunyi di sudut-sudut kampung, seolah menjaga kenangan masa lalu. Generasi muda mungkin tak pernah merasakan lebatnya kebun salak seperti yang diceritakan kakek-nenek mereka, namun kisahnya tetap hidup dalam tutur lisan.
Meski hanya tinggal kenangan, cerita Kampung Salak Condet tidak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam ingatan warga, dalam cerita yang pernah dituturkan Almarhum Haji Endung, dan dalam jejak-jejak perubahan yang masih bisa dirasakan hingga kini. Kampung ini mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya tercatat di buku, tetapi juga tumbuh di halaman rumah, lalu perlahan berubah menjadi tembok dan atap.
Kampung Salak Condet mungkin tak lagi serimbun dulu, tetapi kisahnya layak dirawat. Karena selama cerita itu terus diceritakan, identitas Condet akan tetap hidup—meski kebun salaknya telah lama menjadi rumah-rumah.

Tidak ada komentar